Senin, Juni 28, 2010
MERENUNG MUNGKIN (BETHARAKALA)
Bahasa sang dalang begitu anggun dan menyilaukan. Mulanya aku tak peduli. Tapi ia terus mengajak duduk mendengar dan menyaksikan sandiwara ini. "Ah... mempermainkan kehidupan," gumamku. Meskipun menarik. Tapi ini tidak benar. Terkadang bijak, terkadang mencibir, terkadang pula sesungukan.
Tak lama. Biusan Betharakala merungsingkan aku. Menyimak. Iba. Dan kau tau? Dengan sangat sadar kali ini aku bukanlah penonton lagi. Aku ambil bagian di tengah pergulatan para pelakon yang sarat pengalaman.
Bungkus ke empat batang pertama. Dji Sam Soe Fatsal 5. Harusnya ini waktu kita bahagia. Tertawa. Berseri. Menuai benih yang telah kita semai. Kita bersepakat membeli satu bidang tanah. Memang tidak lebar. Hanya sekepalan tangan. Aku cabuti ilalang gering yang tumbuh. Aku tawarkan perban pembalut luka. Karna aku tidak mengerti bercocok tanam. Kita saling jual kesabaran waktu itu.
Betharakala menuntun kita. Meski aku tak pandai menebar benih. Tapi aku mampu menjaganya. Setiap waktu. Aku sirami, aku pupuki. Karna ini mengasyikan.
Masih bungkus ke empat batang pertama. Dji Sam Soe Fatsal 5. Rokokku tak lagi berbara. Berbaur dengan abu dan puntung di sebuah piring mungil. Hmm... Kepulan asap tipis mengusik mata ini. Perih. "Ada yang tersambar sepertinya," pikirku. Tapi. Aku tampik pikir itu. Aku sangat yakin dan percaya pada puntung ini. Karna ia setia bersamaku. Seperti aku bersedia serahkan paru-paru untuknya.
Kali ini gas pembuat api semakin menipis. Aku paksa ia membakar putung ini. duapuluhtiga jam tiga menit duaribusepuluh detik. Ternyata putungku terus menyala sedari tadi. Ia tersulut sisa puntung yang dipatahkan. Heran? Ya pastinya. Mengapa kau tak menawarkan asap pekat kepadaku?
Berkutat pada batang pertama. Di bungkus ke empat ini. Dji Sam Soe Fatsal 5. Kebenaran telah terkuak. Kalau semua sia-sia. Biar aku serahkan semua bungkus terakhir ini. Meski aku membutuhkannya. Tapi sudahlah. Selama baramu tetap menyala. Aku selalu bahagia. Sebab inilah tujuanku: Membahagiakanmu dengan cara apapun.
(jakarta, 28 Juni 2010)
Jumat, April 02, 2010
TERTIPU
... Sampai tiba masanya aku pun bertatap. Dengan segenap semangat yang tak pernah hadir sebelumnya. Perkiraan dan Prakiraan semakin menggelayuti akan senyum dan tawa bahagia. Pertanda buruk tak hiraukan akal sehatku lagi. Semua hanya kebaikan dan keindahan mimpi yang menyemangati.
Perjalananku menyebrang selat
Februari yang indah. Kedatanganku tak bersambut megah. Mungkin perkara rambut yang tak cantik lagi.Aku tetap berupaya menyemangati diri tanpa ragu akan sambutan. Kesibukan demi kesibukan termaklumi sudah sejak setahun yang lewat. Menjunjung sportifitas utamanya. Tegas dan pasti terucap: "Aku menyambangimu gadis diseberang selat".
Satu dua hari berlalu memaksaku menyaksikan kesibukan. Tapi aku bisa apa? aku bukan seorang seniman. Walau demikian aku hadir sebagai semangat ditengah keruwetan hari menjelang perayaanmu.
Ku beri yang kau minta. Kehadiranku katamu. Perbincangan tampil muka, suara, aksen, serta lagak laku. Agar tak ada terawang ramalan curiga lagi. Sedikit demi sedikit kau mulai melontarkan kalimat-kalimat memilukan. Ya..Ketegasanku katamu lagi. Mata membelalak telinga terbuka. Faham! 2minggu lebih terlewat tak seperti dambaan. Maklum. Hingga tiba saat perpisahan itu. Tak ada hantaran muka. Pelukan hangat. Hanya lenguhan suara baru terjaga. Lagi-lagi tak apa.
Aku pulang.
Kabar gembira
Saat yang dinanti akan segera tiba. Kabar gembira datang dari seberang akan hidup baru. Mulailah Semangat ini bergejolak tanpa keluh. Tak ada pertanda buruk. Sambutan hangat akan kabar seperti tak terbendung.
Tapi. Ada apa ini. Halangan demi halangan memaksaku terdiam 5 jam tak tepat janji. Semoga ini bukan kabar buruk karna gairah semakin meletup di ubun-ubun. Hidup bersama... Hidup bersama... seperti yang pernah diikrarkan berdua.
Kau sambut meski aku tak tepat 5 jam. Pelukan hangat di terminal. Aku berlagak seperti biasa tanpa letupan ekspresi hati. Kau pun demikian. Pikirku : "Polisi sialan yang menarik lembaran dari saku membuat ini jadi kaku".
Ekspresi tertunda
Dimulailah permainannya. Satu persatu segala sikap yang telah disepakati kian dilanggar. Dengan sabar aku terima kau apa adanya. Dua hari tiga hari semakin menjadi. Seperti tantangan yang tak henti. Meski kita tetap komit akan komunikasikan segalanya.
Hari itu tiba dimana pembohongan telah berpelat baja. Terlontar ketersinggungan akan tak dianggapnya kedatanganku. Kau nyatakan semua palsu. Tak ada cinta. Ditambah lagi informasi yang tak sampai pada daun telinga ini. Pada dasarnya aku laki-laki yang telah lama kecewa akan keadaan sekitar. Tapi kali ini aku tak bisa terima. Melayanglah telapak tangan kanan ini persis di pipi kirinya. Klimaks atas kata sabar. Kau hina aku sangat. Mengapa tak katakan "Tak usahlah aku hadir di kota mu". Mengapa kau iming-iming janji dan mimpi-mimpi itu. Kau tahu kondisiku saat itu. Ibuku akan dibedah, pekerjaanku semakin mengabur, logistikku semakin menipis. Pada siapa lagi aku harus bercerita? hah! Ini ulang tahunku. Kado besar berbungkus bunga. Terima kasih! ku terima dengan telapak melayang.
Biasa saja
Di benak tetap tak mampu menerima atas kisah ini. Harus secara radikal aku membunuh rasa. Menghancurkan mimpi-mimpi. Menghanyutkan segala gairah. Meski janji telah terucap.
Tak pernah terpikirkan akan seperti ini perjalanan cinta, sayang dan kasih. Aku terbuai sungguh terbuai akan rayuan serta pembohongan.
Dan sekarang waktu bagi ku untuk merenung kembali. Ternyata memang benar perkiraanku sejak dulu jikalau wanita adalah penumbang semangat. Aku nol saat ini. Kosong tanpa isi. Bodoh tanpa akal. Meski aku tak akan menyalahkannya. Yang tersesali hanya aku dengan keterbuaianku yang begitu meyakinkan.
(Rancho. 02 April 2010)
Sabtu, Januari 23, 2010
TAK TUNTAS
Dimulai lagi dari dini hari. Ketika jutaan mata telah terlena akan dunia lelap. Kali ini gagak hitam berparuh tajam dengan ikhlasnya mencaci kegelapan. Hinaan demi hinaan terlontar deras tepat di kepala bulan. Sabit mungkin kala itu. Masih tak bisa dimengerti maksud cacimakinya akan alam. Apakah karna alam t’lah menyatu di tiap helai bulu-bulu halusnya? Atau malah helai-helai bulu kelam membaur dengan alam?
Sepertinya perenungan tak ‘kan kunjung usai. Mencaci pun tak jua tuntas. Jikalau sentuhan penuh gairah segera terlepas tegas dari cengkraman.
Ini. Bukan perkara ranting yang beranjak dewasa menjelang mati. Tuturnya hanya alam tak pernah bersahabat menuruti rasa-akal-pikirnya saja. Hilanglah sudah kata-kata mulia pemuja eros. Berganti kini tabi’at shiva berpegang tongkat trisula terlilit cobra ganas. Dan. Nanar matanya. Menyala!
Bulan terperanjat menatap. Sigap jilatan lidah api gampang memerah gumpalan berliuk penuh akal. Pikirnya t’lah berkarat. Telinganya t’lah terkatup. Mulutnya t’lah terbungkam. “Mata? Ah… mata tak usah lah bicarakan mata,“ hinanya lagi.
Ya, terasa sangat jelas kepulan asap panas yang mengandung seratus dewa penggoda itu. Membenamkan segala legenda tanpa mukadimah. Manis-pahit tak berarti sudah tanpa penetrasi. Karna dirasanya alam sudah tak intim lagi.
Tapi. Tilik sebentar bagian terkecil yang hampir terlewat: Ujung paruh yang kian membengkok bukan tanpa musabab; Kelelahan mematuk tak bisa menyengat; Kedinginan tanpa selimut helai bulu lembut; Pintu jeruji penjara semakin berkarat, bahkan hampir patah.
Tak sedikitpun ia mentolerir. Kaki tuanya yang lelah. Sayap kecilnya yang linu. Helai bulunya yang rontok. Kuku-kuku cakarnya yang terlepas. Kulit kepalanya terkelupas. Kembali dirasanya sahabat alam t’lah berpaling.
Heiy…. Lihat Kunang-kunang menghampirinya. Itu luar biasa?
Selepas obrolan kunang-kunang pun meredup kecewa. Sekerlip saja ia hilang menyatu bersama kelam. Aneh. Tak kerling sesudahnya. Ada apa? Begitu besarkah pengaruh gagak hitam itu.
Namun secara bersamaan. Alam masih tenang dengan kekelaman. Bulan tetap anggun melengkung. Tak sedikitpun terbersit rasa iri akan indah benderangnya mentari. Tapi Sang Gagak Hitam?
TEGAS MIMPI
Karpet merah t’lah terbentang
Langit menjelma kelambu kelam
Kerling kunang-kunang sekejap pergi
Rumput hijau malu tertunduk
Lalu!
Melesat!
Cepat!
Si kerdil bergerak sigap
Melangkah gagah tanpa pikir
Babat keras hamparan batas
Satu!
Hanya Satu harap menggunung
Mahligai emas mimpi di seberang selat.
(Palembang, 23 Januari 2010)
Kamis, Mei 14, 2009
NYA KALAHKAN AKU
Pabila sebuah usaha pertemanan tanpa disengaja telah menjadi petaka satu hubungan romantisme. Praha kamis dini hari sangat tepat untuk paksa semua kembali seperti sediakala: Individualis, picik, asumsi.
Dan. Hari ini dimulai pada kata berhenti. Walau berhenti tak menghentikan segala bentuk usaha membangun hubungan. Apalagi membunuh realitas kehidupan pribadi serta kepublikan. Mungkin hanya akan mengungkapkan lagi kata gagal yang pernah terlewat.
Lagi-lagi kebersamaan kata dan suara yang terus dijadikan perkara asumsi negatif. Padahal, untuk mengetahui seberapa jujur seseorang akan lebih efektif melalui bahasa tutur. Sebuah hubungan akan terus terjalin dengan damai ketika pelakonnya sendiri merasa memiliki satu selera, satu penyepakatan. Pada akhirnya layak untuk dinikmati dan dijalani. Bukan dengan saran, pun bukan pula dengan paksaan.
Sebagaiamana telah dibicarakan. Membaca. Mengukur. Adalah pedoman yang paling tepat untuk merangkai jalinan pertemanan ini secara baik. Karna segala bentuk usaha Menyikapi berawal dari dua kata itu. Tujuannya tidak lebih, hanya menemukan pola-pola baru dalam menata kehidupan lebih baik sesuai dengan apa yang diinginkan pribadi pelakon, juga publik yang berperan sebagai pengonsumsinya.
Baiknya runut kembali awal mula terjadinya petaka itu. Rumput ilalang takkan mampu tumbuh tanpa perantara air.
Aku masih tetap sama. Tanpa saran. Hanya mengingatkan untuk beristirahat sejenak. Sampai tiba waktunya nanti akan ada pergerakan yang berarti. Lagi.
------
NYA Kalahkan Aku
Putuskan hanya kepada NYA
Tuhan pencipta kamu
Rasakan hanya kepada NYA
Tuhan pelembut kamu
Berikan hanya kepada NYA
Tuhan pembentuk kamu
Suarakan hanya kepada NYA
Tuhan pendengar kamu
Undurkan hanya kepada NYA
Tuhan penguasa kamu
Tegaskan hanya kepada NYA
Tuhan penyayang kamu
Nyatakan hanya kepada NYA
Tuhan pengasih kamu
Aku masih bertuhan kepada NYA
Dialah NYA
Moral, Rasa, serta Keindahan
Dan NYA mengalahkan Aku
(
Sabtu, April 04, 2009
MERENUNG MUNGKIN

Konon, merenung mampu membantu kita untuk berpikir jernih. Kalimat tersebut sangat sering diperdengarkan beberapa orang yang pernah menyatakan dirinya hidup didalam ke-sufi-an. Kesemuanya ditujukan supaya tidak ada lagi manusia yang membuka aib dirinya sendiri kepada orang lain.
Hakikat kehidupan manusia yang selalu mengatasnamakan “sosial” bagaiamana? Mungkin inilah saatnya setiap manusia kembali ke kodrat kelahirannya. Hidup sendiri. Walau untuk sementara waktu.
Hanya saja ketika tahap perenungan itu telah merubah segalanya menjadi ribuan keluh kesah, apa mungkin bisa menghasilkan pikiran-pikran jernih tersebut.Memang sebagian besar kaum pemeras keringat disekitar kita seringkali terlalu serius melakukannya. Mereka rela menjalani ritual tersebut sembari menumpahkan kegelisahan yang dialami. Itu demi siapa? Pasti. Tidak lain hanya demi memperpanjang kehidupan engkong-engkong pembayar tetesan keringat jatuh.
Dan mereka termimpikan akan kemulukan janji-janji lagi. Walhasil harapan pun dihadirkan melalui Kata-kata dengan alasan pemuas nafsu anak istri. Tidak lebih. Terlalu banyak hal yang harus sangat disayangkan untuk pengorbanan itu. Salah satu yang paling utama mungkin untuk memenuhi hasratnya menutupi kemaluan sendiri pun tak sanggup terpikirkannya.
Tak ada ide yang berkembang. Tak ada Kreatifitas yang ditampakkan. Bertindak bukan atas kemauan sendiri. Karna kebebasan terkungkung diantara tumpukan sesumbar harapan-harapan yang mungkin hanya sesebatas khayalan. Untuk mencapainya? Hanya sopir dan tuhan yang tahu.
Coba perhatikan lagi belakangan ini. Upaya untuk saling pukau memukau kembali menjadi bagian dari kehidupan berdemokrasi. Cari mencari dukungan melalui kata indah. Bahasa yang rapi. Tapi mendapatkannya, tetap harus berkeringat pula. Rusak sudah dimakan takdir. Berkarya seni pun. Tak ada.
Sekilas lintas dalam sebuah sajak pernah sempat ditegaskan: kita menyandang tugas/karna tugas adalah tugas/bukan demi sorga atau neraka/tapi demi kehidupan seorang manusia.
Tak bisa dibantah lagi. Tujuan mencapai kehidupan kekal. Layak versi religi selalu diutamakan di atas segalanya. Namun, dendang indah penghantar lelap di waktu kanak-kanak sering kali melenakan kita. Dijanjikan dengan dihadirkannya tanah-tanah berkolam susu kelak. Yang semakin hari semakin mendewasa masuk ke dalam otak. Merekam indah. Dan mutlak tertanam kokoh disana.
Masih ingat yang sering dikatakan bunda: Patuhi kata-kata bapakmu!
Berkerak sudah. Karna Bapak tak mampu di patuhi lagi. Maka sebagian teman berserta aku pun mendeklarasikan satu sajak baru: Berbuat baik kepada orangtua bukan menuruti segala keinginanya.
Bertentangankah semuanya itu?
Selami lagi. Selama akar pohon mu masih bercabang.
Minggu, November 23, 2008
RAHASIA LANGIT
Bukan pertanyaan mesti terlontar. Ketika kejenuhan menyapa bagian pribadi cucu-cucu adam ini. Tiap keluh kesah blangsak dalam otak bukan dalam rasa baru.Apa yang kau cari bunda. Ketika teriakan histeris keluar dari mulut wanita-wanita pencinta boyband. Menyentuh hati kah? atau menyentuh kemaluan? Sedikit rahasia selalu menjadi kebanggaan bukan? Tapi bunda terlalu banyak bicara. Akal ku tak mampu berkata langit. Karena langit milik tuhan, begitu juga aku, kamu, dia. apalagi barack obama.
Biarkan kehampaan menyertai himpitan kekosongan. Jangan dibantah lagi. Stop. hentikan pencarian pintu langit menuju tuhanmu. Yang aku tahu, semua bertuhan kepada hasrat keingintahuan pemecah nafsu. Sedang, tarik nafas kehidupan jibril tak pernah terpikir bagi kita, bukan?. Sebab, betapa berat tugas yang disandangnya. Lalu betapa tegar sosok jibril dimana?
Bagaimana dengan Ridwan? pribadi penuh keindahan, idola ibu-ibu muslimah apalagi perawan-perawan pencinta al-kitab. Walau di blok seberang, berdiri kokoh gerbang dengan penjaga sangar berangasan.
Ya. Malik. Tokoh yang begitu amat sangat dihindari keturunan Adam. Walau aku menganggapnya pembunuhan karakter sang penjaga gerbang.
Lalu. Kemana langkah kaki pencari tuhan harus berjalan? Bukankah tak ada pertanyaan lagi?
Selagi tuhan sibuk menyusun tumpukan skenario hati hambanya. Selalu saja perkara mencari tahu pintu langit masih tercecer jauh. Dengan anggapan. Aku Punya Kuncinya!!!
Betapa indah angan-angan itu. Baiknya aku kembali kanak-kanak. Merasai tiap detik yang penuh harga. Menjiwai tiap kata yang masuk telinga. Menikmati bunga kecil dihadapan mata. Mengangani menjadi dewasa.
Dan sekarang, waktu telah dengan lancang menggerogoti angka-angka almanak. Menambah nominal ketuaan diri diantara kekosongan menyerupai kegosongan bara. Begitupun langit. Tetaplah langit. Penuh rahasia. Biarkan ia tertutup. Karena itu rahasia. Bukan wacana. Tak kan ada rahasia bila semua berkata: "Aku pun pernah tahu rahasia itu".
Kamis, Maret 27, 2008
PENJARA WAKTU
Dua puluh empat tahun sudah genap usia ku tiga hari yang lewat. Sangat terasa memang, tapi kesemuanya serasa berlalu secara kencang, cepat dan deras, hingga aku sendiri tidak terlalu dihebohkan dengan datangnya hari itu. Ucapan selamat hari lahir, milad, bahkan happy birthday pun berdatangan, baik itu melalui pesan singkat di handphone maupun melalui kotak surat elektronik. Siapa-siapa orang yang mengirimkan itu pun aku sudah tahu dan kenal cukup lama, walau sebagian dari pengirim melalui electronic mail tak pernah bertatap muka secara langsung dengan ku, tapi tetap aku merasa sudah cukup mengenalnya."Hari bahagia, hari yang penuh makna" mungkin itu lah kalimat tersering yang aku dengar dari lantunan syair-syair indah yang pernah dilantunkan oleh pelantun suara indah, untuk menyampaikan antusiasme terhadap satu momen untuk memperingati hari yang selalu ditunggu setiap tahun oleh sebagian besar manusia penghuni tanah bulat ini.
Sempat terbersit juga memang, mungkin di saat bersamaan juga ada orang atau mahluk di dunia bagian lain yang juga menanti atau mengharapkan datangnya hari itu, mungkin karena di hari itu ia akan mendapatkan lotre, atau menantikan kedatangan hadiah undian dari salah satu bank, atau malah ada yang bertolak belakang dengan mereka hingga sangat membenci akan datang hari itu. Yah.... pikiran ku kembali melayang, berbagai khayalan pun melambung menikmati hasil karya ilahi yang selalu diklaim sebagai produk terpuji dan sangat berharga di antara sekian banyak karya yang sudah di hasilkan sang pencipta.
Sampai pada akhirnya aku pun melihat testi dari salah seorang teman 'maya' yang isinya:
Harimu terus berjalan kawan
Umurmu terus berkurang tak tertahan
Takdir terkadang tak terbantahkan
Namun hidup kan terus berjalan
Bon anniversaire... Moga bisa terus berkarya, makin dewasa dalam hidup dan dalam iman.
Disini aku seakan-akan dipaksa untuk berpikir keras. Mencerna makna yang tersimpul di antara untaian kata-kata singkat itu.
'Harimu terus berjalan kawan'
aku terus termangu menatap rangkaian kata itu, apakah benar aku telah melalui jalan yang panjang menapaki gang paling terkenal bernama hari-hari [waktu]. Aku merasa sepertinya singkat saja aku melewati masa-masa dimana aku tidur dipangkuan ibu ku, dengan sapuan tangan kasar namun penuh kasih itu mengusap rambutku. AH..... ternyata itu sudah lama terjadi, tampaknya masa itu tak akan kembali lagi.
' Umurmu terus berkurang tak tertahan'
Disini merasa sangat terpukul dengan untaian kata itu, bagaimana tidak, bukannya hari itu digit angka di badan ku bertambah?. Kok, malah ia katakan kalau umurku semakin berkurang, Ah.... tampaknya ada lagi orang yang kembali menakut-nakuti ku mengenai persoalan pengakhiran hidup.
' Takdir terkadang tak terbantahkan'
Iya memang aku sangat meyakini akan adanya takdir, terus... maksudnya 'tak terbantahkan' itu maksudnya apa? Aku hanya melihat takdir ku ini aku lalui, aku jalani, dan aku nikmati, tanpa ada penyesalan. Lalu takdir seperti apa yang dimaksudkannya itu. Sepertinya ia ingin terus menakut-nakuti ku dengan bahasa tuhan lagi.
' Namun hidup kan terus berjalan'
Jelas aku akan hadapi itu, aku bukan orang yang stagnan atau statis, berdiam diri menunggu nasi datang dihadapan mulut busuk ku, kesemuanya telah aku lalui sampai dengan hari itu datang. Tak ada yang aneh, dengan adanya tekad dan semangat berkobar didalam dada sesak yang talah penuh dengan asap rokok ini, aku tetap harus menjalankan misi pencarian ku yang belum terselesaikan. Terjawabkah?
' Bon anniversaire...'
yang ini aku tidak mengerti maksudnya apa, tapi yang jelas ini seperti ucapan 'happy anniversary' aku rasa. Tidak ada yang harus diselamatkan atas diriku, atau jangan-jangan ini suatu pengucapan agar aku terus bisa menjaga kesalamatan orang lain. Tapi tetap ini hanya dugaan subyektif ku saja.
'Moga bisa terus berkarya, makin dewasa dalam hidup dan dalam iman.'
Kalimat pertama sebelum tanda koma (,) itu sangat aku hargai, aku akan terus berkarya dalam bentuk apapun sebagai perwujudan dari apa yang aku cari. Namun kalimat kedua sebelum diakhiri tanda titik (.) itu, apa pula maksudnya. Dengan nominal angka yang telah aku kantongi sekarang ini, apa belum bisa mempertontonkan kalau aku ini sudah mencapai fase orang dewasa dalam hidup, sudah berbagai macam penerimaan aku rasakan dalam hidup, dan dengan keyakinan reliji ku sekarang, aku rasa itu juga masih tetap masuk dalam satu buku misi ku sekarang, kan?
Walau demikian tetap saja secara keseluruhan aku sangat layak berbangga hati bisa mendapatkan teman, walaupun ia tidak bisa mengirimkan hadiah berupa benda atau juga bunga, tapi dengan mengirimkan rangkaian kata-kata itu aku merasa masih ada orang yang mampu meluangkan waktunya untuk berpikir sejenak kemudian mengetukkan kesepuluh jarinya diatas keyboard agar terciptanya untaian kata-kata indah. Akhirnya dengan tulus ikhlas dan dengan penuh penghormatan tertinggi diatas kepala Hitler aku ucapkan 'TERIMA KASIH' kepada yang mengirimkan kado terindah itu.
"Selamat Ulang Tahun, Selamat Hari Lahir, Selamat Hari Raya, Selamat Hari Peringatan, Selamat atas Pertambahan Umur, Selamat atas Perolehan Angka Baru,
Selamat Datang di Gerbang Baru, Selamat Menikmati Hidup di Grade yang Baru."
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
apakah masih ada yang harus bertanya lagi
di saat semua sudah tersinar pagi
tak ada yang bisa terganti dihari ini
sinar hitam pekat berlari tanpa henti-henti
mengejar semua isi perut bumi
tak ada yang bicara persoalan ganti rugi
sepertinya ibu suri masih tetap terlelap akan kata-kata berani
apakah masih ada yang harus bertanya lagi
sekembali ia mencari bunyi perkusi di negeri sehari
akankah ia pergi mencari jangkrik-jangkrik bernyanyi di pinggir kali
walaupun tak pernah sekalipun ia jingkrat-jingkrat menari seudati
tapi hanya tampak dari muka yang berseri tanpa harapan pasti ini
sangat jelaslah sudah, semua sudah tak ada arti bagi dirinya sendiri
pengejarannya telah sampai di titik terperih hari ini
hingga di hari pengakuan pun tak pernah ia hadir disini
apakah masih ada yang harus bertanya lagi
kemana aku semalaman tak berada disini
aku mencari semua yang pernah dicuri
sakit gigi, sakit hati, sakit rasanya berada disini
tak pernah aku pergi berlari dari perkara mati
malah aku sering menantang apa itu kekal abadi
aku cari semua yang menginjak bumi
untuk bersama berlari mencari hidup abadi
terhindar dari semua pencuri hak dan harga diri
teriakanlah.......
temani aku jangan biarkan aku sendiri
aku hanya ingin mempertontonkan apa itu hati nurani
(jakarta, 27 maret 2008)
Kamis, Maret 13, 2008
WARUNG KOPI YANG GAGAL
Seperti yang pernah aku ungkapkan sebelumnya bahwasannya akan semakin banyak tema dan bahasan dalam obrolan warung kopi di saat aku harus melepas lelah dari rutinitas. Sangat nyata benar, kalau kebosanan telah merasuki bukan hanya ke dalam darah, tapi telah mencapai puncak stressing paling tinggi di dalam otak kecil paling belakang, yang terkadang membuat ku sedikit merasa pusing kejenuhan.Di setiap perbincangan bersama orang-orang selalu saja tidak bisa dijadikan tumpuan pencari solusi terbaik, tapi malah memancing persoalan-persoalan baru yang juga mau tidak mau aku pun dengan keterpaksaan harus nimbrung untuk mengikuti alur cerita itu. Tambah mumet. Walau aku tahu obrolan yang dilancarkan bukan obrolan terbaru, hanya saja kosa kata dan pemilihan bahasanya saja yang terdengar baru, tapi kesemuanya itu sebenarnya sangat lama sekali sudah pernah diperbincangkan di setiap sudut, terkadang aku pun sempat dilanda rasa bosan untuk memperbincangkannya lagi. Bukan persoalan tema atau apa yang menjadi persoalannya yang membuat ku bosan, tapi jalan keluar nya yang selalu mentok di jalan buntu lah yang menjadi topik itu selalu menjadi garing.
Obrolan warung kopi memang tidak lah buruk adanya, hanya saja akhir-akhir ini seperti tidak memiliki visi yang jelas, ada yang bicara yang lain mendengar, terus ada usaha dari lawan bicara menanggapi kemudian semua diam. Layaknya orang-orang yang sedang mengeluarkan unek-uneknya saja tidak lebih, malah semakin hari semakin tidak menarik aku rasakan.
Tidak ada aroma menyengat lagi dari obrolan-obrolan itu sekarang. Tidak seperti dulu, semua sepertinya telah larut didalam usaha untuk mengeluarkan diri dari masalah dengan cara masing-masing. Sampai-sampai untuk mengeluarkan kata-kata berisikan guyon pun tampaknya sudah mulai berkurang, apakah ini kontraksi dari salah satu segmen proses ekskresi pencernaan bermasalah. Yang terdengar hanya kotoran-kotoran saja.
Semua telah di rundung persoalan yang sama, kebosanan dan tanpa harapan. Berharap tapi tidak tahu apa yang diharapkan, bertahan pun tidak tahu apa yang mesti dipertahankan. Akankah aku mengajak semua untuk bertapa didalam kejenuhan tanpa dasar berpola. Aku rasa tidak perlu.
Mungkinkah ini sudah suatu keharusan bagi semua kaum buruh, dimana semua harus duduk berleha-leha selalu saja membicarakan majikan. Mending kalau majikannya garang atau sangar, bisa langsung aku berikan tusukan khas dari palembang. Lah, kalau sang majikan hanya bisa berdiam, tanpa tindakan.
Untuk sekarang aku hanya mencoba memancing di air keruh saja dulu, bangkitkan semua keluhan-keluhan dari semua, biarkan mereka semua berkeluh kesah walau akupun ruwat, jadikan itu sebagai tombak runcing untuk menusuk sang majikan.
Sekali lagi urusan penghargaan yang diaplikasikan dalam bentuk nominal dengan penyeragaman tanpa ada ketimpanganlah tuntutan kawan-kawan. Apakah sangat diperlukan pergerakan ayam-ayam kampung palmerah aku ungkapkan lagi? Sepertinya itu akan terus berlangsung hingga nantinya yang tersisa hanya telor-telornya saja, yang belum tentu itu akan menjadi bibit unggul dari jago-jago berjengger merah karena sang jago sekarang sudah hilang gairah untuk mereproduksi keturunan lagi. Kita tunggu saja saatnya, yang tersisa hanya telor-telor busuk tanpa ada yang mengeraminya. Hancurlah kau kandang ayam.
====================================================================
lelaki itu berangkat dengan penuh harap
diciuminya tangan kedua orang tua
"aku akan menjadi harapan mu" ia berucap
hilanglah ia di tengah dingin dunia
bagai wedana di antah barantah
ia melangkahkan kaki ke tanah neraka
tangis beriring indah senyum merekah
tertepiskan bersama harap membara
tak berapa lama sampailah ia disana
"aku datang wahai penguasa dunia" serunya
bukan hanya khayal ia menjelajah dunia
lihatlah harap itu masih merah menyala
bukan dosa bunda melepas kepergiannya
hanya nasib tak tega menjadi tumpuan
bukan salah bapa menitikkan restu
tapi asa masih tetap malu mencari umpan
larutlah ia dalam khayal beratap
fatamorgana terus merambat merayap
halusinasi rumi pun enggan menatap
kini, ia lah pemuda tanpa pengharap
sempurna sudah......
(jakarta, 13 maret 2008)
Minggu, Maret 09, 2008
PERBEDAAN

Hidup di antara sengatan menyengat aroma sisa-sisa pembuangan dari dapur tuan Baron modern, tak membuat orang-orang yang dijadikan objek pencari dana monetary rahwana-rahwana berdasi itu bosan, tapi mereka tetap akan menikmati hidangan yang diberikan sang pencipta kepadanya, karung-karung bekas dijadikannya sebagai pelindung kepala anak-anak bangsa ditambah kardus-kardus mie disisi kanan-kiri depan-belakang dijadikannya sebagai pelindung dari cemeti panas terik matahari dan hantaman hujan gledek disebabkan alam yang kian gringsang, yang tak tahu kepada siapa alam memberi pelajaran itu.
Jelas kenikmatan yang mereka rasakan sangat berbeda dengan kenikmatan yang kita rasakan, kenikmatan itu tak pernah kita mengerti walau terkadang muka memelas penuh penghambaannya membuat miris pilu kita menatapnya. Tapi itu bukan keputusasaan mereka, coba lihat senda gurau disertai gelak tawa menyeruakkan kepuasan saat mereka berebut lemparan kotoran-kotoran dari dalam keledai modern berkaki bulat buatan saudara tua bangsa ini.
Mereka hidup dari mengais sisa-sisa buangan si tuan polan, tak pernah sekalipun mengeluarkan tuntutan berlembar-lembar hvs berisi baris-baris kata dengan mengatasnamakan perut mereka. Tapi mengapa, malah mereka dijadikan musuh bebuyutan hingga tak segan-segan sering kali kenyamanan hidup mereka terus diganggu sebagai bentuk usaha pemuas kenikmatan si leher berdasi, padahal mereka hanya meminta sisa-sisa yang dibuang, bukan burger dan ayam goreng paman sam.
Pernah suatu ketika mereka membuat para rahwana menjadi berang, bukan karena mereka mencuri sepatu hitam mengkilap dari atas rak. Persoalannya sepele, hanya karena nafsu syahwat para rahwana tiba-tiba sedang meningkat hingga matanya perih dan pedas melihat mereka mengais rejeki di sekitaran pembuangan berbau busuk. Dan akibatnya, mereka harus tereliminasi dari kenikmatan hidupnya selama ini dan harus bergelimpangan di bawah-bawah bangunan penyangga rel impor. Naas benar nasib mereka, untuk mencari kenyamanan hidup pun mereka harus terganggu.
Penguasa bersetelan rapi itu tak pernah menginjakkan kakinya lagi. Dulu sebelum ia bisa berseragam, pernah sempat bermain-main bersama mereka. Tapi sekarang, mereka hanya dijadikan asset berharga bagi penguasa agar setelan jasnya tak copot dengan segera. Mengelu-elukan usaha perbaikan gizi, malah satu keluarga di Makassar tewas mengenaskan karena marasmus.
Ah.... terlalu lelah aku membahas semua, mungkin keadaan inilah yang memaksa kita harus tetap mengakui bahwa "Inilah Indonesia ku", dari berbagai ketimpangan yang terjadi inilah bisa menimbulkan terjalinnya hubungan yang harmonis antara si kaya dan si papa. Mari kita rapatkan barisan bergabung dalam satu kesatuan untuk tetap bisa terjaga dari kehidupan maya bentukan penguasa. Ayo jangan ragu teriakanlah "Aku lah orang Indonesia itu...!!".
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
material seperti apa
yang bisa menyatakannya
berwujud tapi tak berbentuk
buku seperti apa
yang bisa mengungkapkannya
nyata tapi tak teraba
katanya ia ada di hati
itukah sebab tangannya menadah
katanya pula ia ada di akal
pantas saja kepalanya mengangguk
orang gila di jalan tak punya itu
makanya ia catwalk tanpa busana
orang gila di istana juga tak punya itu
tapi kan ia berbusana rapi, berdasi pula
aneh memang
padahal itu adalah budaya bangsa
(jakarta, 09 maret 2008)
Kamis, Maret 06, 2008
CINTA DAN MATI
Siapapun kita di pelataran bumi indonesia ini, pastilah tahu siapa pemimpin negara sekarang. Jelas, sama jelasnya saat kita melintas di sekitaran tempat pertunjukkan film atau lebih akrab di kenal dengan sapaan bioskop, tampak megah dan mewah memajang poster berukuran besar dengan menampilkan tiga sosok sahaya yang dua diantaranya wanita. Walau tak tampak jelas apa tulisan dibawahnya, tapi kita tetap tahu pertunjukkan film seperti apa dan title apa yang akan ditayangkan di dalam sana.Sangat hebat atau lebih tepatnya sukses besar aku memberi penghargaan atas film itu. Bagaimana tidak, selain film ini diangkat dari sebuah novel bestseller film ini juga konon bercerita mengenai apa itu cinta (katanya). Sekali lagi sukses besar, sukses besar, memang layak bagi ku untuk mengacungkan jempol, walaupun aku sendiri tidak pernah menontonya apalagi membaca novelnya, tapi tetap aku akui inilah sukses besar atas sebuah karya.
Kalau kita mau menilisik lagi, kesemuanya itu tidak akan bisa terjadi apabila tidak ada antusiasme dari para mahluk pencari cinta (iya kita-kita ini) mendambakan sosok seorang fachri yang alim dan sang aisyah yang penuh misteri.
Tapi tetap saja aku harus menghindari menonton film ini, Loh.. Kenapa bang? Ya... sebagaimana telah aku paparkan sebelum ini, aku sangat menghindari segala bentuk yang berbau percintaan antara dua manusia, baik itu berupa film, puisi, lagu ataupun stensil kuno. Sebagai manusia yang penuh akan lupa, aku tetap beranggapan aku belum siap mencintai seseorang akhwat/harim/wanita/perempuan/cewek/awewek/betino atau apalah sebutan yang mengatasnamakan keturunan adam berjenis kelamin sama sepert hawa.
Ada satu hal yang aku kurang menyetujui konsep dari novel atau film itu, apalagi kalau bukan penggabungan antara percintaan dua insan yang dikait-kaitkan dan dihubung-hubungkan dengan keyakinan suatu pemeluk agama (muslim). Aku bukan orang suci, aku juga bukan orang alim, pun aku bukan fachri. Aku hanya orang goblok yang tak kenal akan cinta untuk saat ini.
maaf kan aku......
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
saat bayangan itu datang
terasa aneh memang
semakin ia mendekat
semakin terasa ia mendekap
tak tampak siapa dibalik jubah itu
yang terlihat hanya bayangan
ingin rasanya lari dari dekapnya
semakin lama,
semakin terasa dingin disini
sosok itu mulai tersenyum
seraya berkata
"biarkanlah aku menenangkanmu,
sebab aku lah izrail sang utusan-Nya"
(jakarta, 06 maret 2008)
Jumat, Februari 29, 2008
KISAH HARI INI

Kalaupun masih bisa berandai-andai, alangkah indahnya bisa menampilkan hidup damai dengan segala keseimbangan di permukaan tanah yang diklaim kepemilikannya oleh sang pencipta ini. Aku merasa itu tidak muluk-muluk, hanya saja pencapaian ke taraf damai itu masih sulit di tembus dengan jerih payah keringat beberapa mahluk saja. Apalagi untuk mengangkat keseimbangan diatas segala bentuk ketimpangan yang ada sekarang ini, ah.... tampaknya aku masih harus tetap berkhayal untuk itu semua.
Hari ini tepat tanggal hari Rabu 28 februari 2008, kembali aku harus mencatatnya kedalam buku khayal kucel dan lecek yang tak kalah usangnya dengan pakaian yang ku pakai hari ini. Hidup di belantara hiruk pikuk kota dengan berbagai macam karakter jenis manusia adalah perperangan paling berat, ketimbang aku harus ikut menghadapi ribuan kafir yang bermusuhan di medan perang karbala yang penuh dengan penghianat. Tapi itu lah keberkahan dan rahmat pemberian secara percuma dari sang Khalik maha dari segala maha, hanya saja di setiap peperangan hidup ini akan ada yang disebut sebagai golongan imamah. Golongan itu dibentuk bertujuan agar kesemuanya bisa berjalan beriringan di bawah satu komando sang komandan.
Sayangnya, siapakah golongan imamah yang dimaksud itu? Anda kah? Bapak anda kah? Kakek anda kah? Aku tak pernah tahu itu semua. Yang jelas aku beranggapan imamah buat ku bukanlah sang Bambang Yudhoyono yang setiap kali selalu tampil di koran tempat ku bekerja, bukan pula sang Nurwahid mantan presiden partai pengekspolitasi kaum hawa, Bukan sang Sutanto dengan sok gagah memamerkan bintang jasa di seragamnya ditambah terselipnya sepucuk revolver gagang hitam berisikan 8 butir peluru di panggulnya walau demikian sangat sering ia tampil tidak pede hingga kemana-mana harus ditemani bawahannya, Jelas Bukan mereka semua.
Lalu apakah aku harus mengakui golongan imamah itu dari golongan terpelajar layaknya Sang Amien yang telah dianggap sebagai tokoh reformasi dulu, Bukan dia. Apa pemilik perusahaan tempat ku bekerja Sang Tanu itu adalah salah satu dari imamah, rasanya aku tidak yakin. Atau sang Pemimpin Redaksi di tempat ku bekerja. Bah.... apalagi dia, sangat jelas sekali bukan dia walau terkadang banyak dari Om-Om redaktur menyanjungnya.
Ternyata semakin dicari sang imamah semakin ngibrit saja lari dari dunia nyata ini. Hingga mengharuskan semua penghuni yang papa layaknya aku disini terombang-ambing memilih jalan ke kanan atau kekiri, harus menerjang maju atau menarik mundur dari dunia.
Jangan katakan kalau aku Pria tak berguna karena berputusasa dengan keadaan, jelas anda salah besar bung..., Aku hanya sedikit bersedih dengan kondisi di tempat ku bekerja, yang mana disetiap permasalahan muncul tidak pernah ada penyelesaian kongkret, padahal itu sudah jelas apa yang menjadi biang dari permasalahan, sampai-sampai harus kehilangan rekan kerja sebanyak tiga orang dibulan ini.
Layaknya orang yang tidak bisa menuntut, mereka pun harus menarik mundur pasukan bertombak didalam hatinya sebab mereka beranggapan tidak ada harta rampasan di tempat ini, yang ada hanya kekalahan memalukan diterimanya. Yang harus tereliminasi itu bukan lah orang sembarang, mereka tergolong pioneer disini.
Seperti biasa aku tidak banyak berharap kalau tulisan ini dibaca oleh mereka ataupun oleh pemilik kehidupan di tempat kerja ku. Sampai dengan hari ini aku hanya mencoba untuk mencari sela dimana aku harus mulai mengakhiri ini semua, tampaknya obrolan warung kopi harus dipersering intensitasnya untuk membentuk rasa persatuan diantara sesama. Dan, kalaupun itu juga ternyata bisa dipatahkan, mau tidak mau aku pun melanjutkan pergerakan yang dimulai dengan jalan harus mundur teratur meninggalkan bekas sesal bagi mereka yang ditinggalkan.
Yah... aku rasa cukup sudah catatan ku hari ini di buku khayal kecil nan kucel didalam otak penuh andai-andai. Untuk sekarang aku harus bertahan karena perjuangan masih berlangsung.......
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
tak ubah ayam kampung di palmerah
dimasukkan semua kedalam kurungan
lalu dikeluarkan satu persatu lewat lobang kecil
kemudian datang lah pembeli
nanar mata sang jago sambil komat kamit
berharap tuan baru memberi jagung
bukan dedak seperti tuan sekarang
tanpa embikan layaknya kambing
perpindah tangan lah sang jago hari ini
(jakarta, 29 februari 2008)
Kamis, Februari 28, 2008
AKU BUKAN ORANG ANEH

Disaat semua orang mulai berbondong-bondong harus pulang berjejal-jejalan mengejar bus juga kereta api dengan peluh dan kepenatannya, disaat itulah aktivitas ku dimulai. Namun di kala semua orang harus mengawali aktivitasnya di pagi hari dengan pakaian rapi dan wangi, aku pun masih tetap berselintasan bersama mereka, hanya saja yang membedakan aku sudah mengakhiri aktivitas harianku.
Kehidupan seperti itu bukan hanya baru satu atau dua hari aku jalani tapi sudah cukup lama hingga aku harus terjerambab kedalam kehidupan didunia tanpa kejelasan dan tujuan hakiki hidup pun tampaknya sedikit bergeser.
Sekali waktu terkadang datang pikiran aneh yang mengajak ku untuk terus berkhayal mengenai apa yang terlewat dan telah hilang dari kehidupan yang sebenarnya. Aku tidak lari dari siapapun, aku pun tidak mengejar suatu apapun, terdengar aneh memang, tapi itulah kehidupan yang sampai hari ini aku nikmati tanpa ada kekuatan dan kenikmatan yang pasti disitu. Walaupun pola hidup yang lama kelamaan semakin aneh ini semakin menyesakkan di dada tetap saja ku jalani.
Adakalanya aku coba merenung sembari menatap para manusia yang haus akan materi. Apakah yang mereka cari itu sama seperti aku dan juga kawan-kawan artistik lain cari? Apakah yang mereka berikan terhadap pekerjaannya itu sama seperti aku dan kawan-kawan artistik lain cari?
AH..... jangankan untuk mengetahui tujuan hidup orang lain, sedangkan mencari tahu tujuan hidup sendiri pun aku sudah lelah hingga kini tetap tidak jelas. Di saat tidur pun aku sudah sangat jarang sekali mendapatkan mimpi. Betapa sialnya sampai-sampai mimpi pun aku tidak diberikan kesempatan lagi. Padahal aku bekerja dituntut menggunakan dan mengandalkan imajinasi dan daya khayal. Diantara kawan-kawan yang dulu pernah bersama selama duduk di bangku sekolah mungkin hanya aku yang memiliki penampilan berbeda saat ini. Semua bukan karena disengaja ataupun diniatkan dari hati, hanya saja terjadinya tidak terduga tanpa ada penyesalan sedikitpun. Itu saja penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan kawan-kawan selama ini tidak ada yang sulit dan kesemuanya singkat dan simple tiada yang di luar akal sehat, kan?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
bukan nyanyi bukan puisi
bukan prolog apalagi drama
suara tanpa bunyi
bunyi pun tanpa suara
bergerak tetap ditempat
ditempat serasa bergerak
kulit mulai mengendur
penglihatan meranjak rabun
pendengaran sayup menjauh
tulang-tulang sendi pun linu
mengulang suatu yang mustahil
melanjutkan juga terasa beban
mundur meratap rintang
maju kedepan ditatap lintang
muda telah terlewat
tua akan terus menerjang
mati jelas di genggam izrail
surga neraka semua gelap
maaf
dian ini telah padam bung.....
Jumat, Februari 22, 2008
PENGALAMAN BIASA

Menyesal, sudah sangat lama sekali aku mengenal kata itu. Teringat saat-saat aku berusia 7 tahun dan aku sudah duduk di kelas 3 SD, Telah berapa banyak aku melakukan tindakan yang membuat orang disekitar jengkel atau menggerutu dengan bahasa kasar 'khas palembang' walau bukan suatu hal luar biasa untuk dipertontonkan dalam kalimat-kalimat klasik. Dari situ saya mulai mengenal kata-kata 'menyesal' hingga hari ini saya hanya mengenalnya lewat kata saja, tidak pernah ku coba untuk mendalami lagi apa arti dari kata menyesal. Alasannya sangatlah gampang ku buat, aku hanya tidak ingin memperdalam luka yang sudah koyak. Menyesal adalah suatu ilmu bagi kita untuk mengungkapkan atas apa yang sudah lewat, ini hanya dalam pengertianku saja karena aku tidak mengenal menyesal secara akrab, sehingga siapapun orang atau lawan akan sesegera mungkin menampakan rasa kasihan bahkan iba terhadap yang siapa berucap, hal itu yang membuat aku jijik.
Seringkali aku terbuai akan frame itu, sehingga tidak ada lah dalam perjalanan hidup ku ini menginginkan untuk mengulang apa yang sudah lewat. Aku rasa hanya percuma saja soalnya yang lewat itu sudah hilang, yang besok itu pasti akan terus datang membrondong secara beruntun. Tak ada yang spesial, luar biasa, apalagi sampai merasa amat sangat menggembirakan selama dalam perjalanan hidup ku ini semuanya berlalu biasa saja tak ada kenangan, bukan berarti aku tak pernah berkumpul dengan teman-teman lama.
Beberapa waktu kemarin sempat saya bertemu dengan teman lama, di blokM tepatnya, dua orang pria dan satu orang wanita. Kelihatan mereka sangat riuh membicarakan masa-masa SMU dulu, tapi aku hanya diam. Aku pun tak luput dari pembicaraan mereka, artinya aku ada kenangan yang dianggap waw bagi mereka, kan? Tapi aku, tak bisa mengungkapkan apa-apa tentang mereka, karena semua kuanggap biasa saja, bukan berarti aku tak bisa mengingat apa yang telah mereka perbuat dulu, ingatku masih jernih.
Tak pernah berharap jadi yang spesial, karena tak bisa memberikan sesuatu yang spesial itu lah aku. Tak pernah menjadi yang spesial, karena aku tidak pernah bisa menjadikan yang lain spesial bagi ku, itu lah aku. Tak pernah mau mengukir kisah yang spesial, apalagi mau mendongengkan kisah yang spesial, itu lah aku. Tidak ada pengalaman yang spesial dalam hidup, mulai dari sekolah SD,SLTP,SMU,DIPLOMA, kerja pun telah ku lalui di tiga tempat yang cukup lumayan dikenal orang, pertama di Dompet Sosial Insan Mulia sebagai tenaga disain cetak saja, yang kedua di Tabloid Wanita MonicA Palembang aku dijadikan Koordinator Artistik waktu itu, pernah sempat join di Harian Umum Sumatera Ekspress tapi hanya berlalu satu minggu saja, dan yang terakhir ini berada di Koran Seputar Indonesia, yang katanya koran Nomor DUA di Indonesia yang aku jalani sekarang aku berada disitu, ditambah lagi aku mendapat tugas baru yang lain dari tugas kawan-kawan lain, hanya saja kedepan aku tak tau akan berpindah kemana lagi. Yah..... tidak ada yang spesial sama sekali kan? Semua mengalir apa adanya, menatap lurus kedepan hanya cukup tengok kiri kanan saja, terus yang di belakang? Itu sudah lewat. Maka jelaslah sudah Aku lah orang yang tidak pernah merasakan spesial itu, Tapi aku tidak menyesal..........
KESABARAN
saat semua dipaksa harus BERSABAR
berarti sudah terjadi KETIDAKADILAN disana
saat semua diharuskan tetap BERSABAR
berarti sudah ada peristiwa KEANEHAN disana
saat semua diingatkan untuk BERSABAR
berarti sudah ada tindak KESEWENANGAN disana
saat semua diajarkan berlaku BERSABAR
berarti sudah ada usaha PENINDASAN disana
saat semua sudah mencoba untuk BERSABAR
berarti PERGERAKAN akan segera dimulai
patahkan lehermu ke KIRI
SABAR adalah awal dari PEMBERONTAKAN
(06 februari 2008)
Kamis, Februari 21, 2008
HIKAYAT POHON BESAR
Sempat membaca sedikit profile dari salah satu teman 'maya' (yang belum tentu ia menganggap saya juga temannya), ada suatu keanehan aku menyebutnya, aku tidak banyak berharap ia membaca tulisan ini, karena ini hanya pandangan dari keegoisan belaka yang ku buat. Sekilas uraian secara subjektif; Mungkin disaat ini ia sedang sedih atau malah bisa lebih dikatakan pilu karena telah lepas dari kekasihnya terdahulu, tapi ia tetap masih mengharapkannya untuk bisa kembali lagi sebagaimana ia pernah merasa bersama dulu. Aku berasumsi bahwa ia telah melewati saat-saat atau masa-masa yang indah dan membahagiakannya mungkin, hingga tak bisa lepas dari bayang-bayang suka dan sendu mantan kekasihnya tersebut.Sepertinya amat menyakitkan baginya, sampai-sampai ia tetap merasa dirinya dibawah dengan terus meminta walau tidak secara direct hanya kata-kata kiasan yang dibuat agar suatu saat bekas kekasihnya dapat melihat apa akibat dari perbuatannya. Malang benar nasibnya, yang aku tahu kalau ia berjenis kelamin wanita, tapi itu bukan suatu alasan baginya untuk mengalah hingga terus mendera sampai berpeluh-peluh air mata.
Bah.... ini merupakan satu lagi pelajaran buat ku sendiri, apakah aku akan menjadi seperti mantan kekasih sang gadis nantinya hingga dengan begitu aku bisa mendapatkan kepuasan mendapatkan julukan 'penakluk wanita'. Buruk benar citra seorang pria kalau begitu. Pelajaran ini akan aku simpan rapat-rapat hingga suatu saat aku akan perlu membukanya lagi.
Dengan demikian tepatlah keputusan ku untuk tetap bertahan dengan kesendirian sampai suatu saat nanti yang aku pun tak mengetahuinya, tidak akan merasa risih atau pun gelisah walau tanpa wanita saat ini. Sebagai bentuk interest ku akan legenda yang telah diukir teman 'maya' ku itu, sebuah sajak ringan untuknya.
(untuk dia yang menanti)
hujan telah berhenti
langit pun sudah cerah kembali
sudahlah, segera lipat payung jingga mu
pelangi akan lebih indah bersama awan
apa kau tak merasa malu
mentari terbahak melalui pancaran itu
ya...
ia akan terus terkekeh menertawai mu
bangunlah rumah dari rumput hijau
jangan kau toleh lagi pohon besar itu
aku tahu...
hikayat pohon besar pembawa harap palsu
pohon itu lah yang sedari tadi melindungi mu
tapi ia kan tak memberimu kedamaian firdaus
kau pun dirasakan sama olehnya
malah saqor membara yang ia rasa darimu
apalagi yang kau harap darinya
toh... kau tak bisa memilikinya
aku hanya berharap bisa melipat payung jinggamu
dan tegas berlari menjauhi pohon besar itu
(21 februari 2008)
Selasa, Februari 19, 2008
TANGGAL MERAH PUTIH
Seperti kebanyakan orang di negara-negara berkembang lainnya, menanamkan rasa kebanggaan dan kecintaan akan segala sesuatu yang dihasilkan sendiri menjadi mutlak adanya. Walaupun terkadang ada saja batu sandungan dalam berbagai bentuk protes mewujudkan penolakan akan apa yang dihasilkan tersebut. Memang sudah banyak program-program berjangka telah diterbitkan pemerintah, sampai-sampai untuk mempertegasnya selalu saja dibubuhi dengan kata sakti (NASIONAL) ditiap ujung kalimat program tersebut.Kesemuanya itu mengingatkan saya akan gerakan yang dicanangkan pada saat saya masih duduk di bangku SMU dulu, SUSAN namanya, singkatan dari SUMATERA SELATAN ANTI NARKOBA, gerakan yang dimotori oleh kapolda sumsel waktu itu bertujuan memberantas peredaran narkotika di lingkungan pelajar dengan alasan telah banyak berkeliaran anak-anak muda pengguna narkotika di Indonesia terutama daerah sumsel. Dengan berbagai macam cara semua unsur pimpinan di dalam tubuh kepolisian itu menggerakkan semua anak buahnya menggelar aksi damai untuk mengikuti perintah atasannya.
Saya sering kali mengenang akan indahnya proses penanganan yang lakukan dari pihak kepolisian, banyaknya penyuluhan mengenai bahaya narkotika diadakan baik dalam bentuk seminar atau pemutaran film mengenai bahaya narkotika, saat itu film yang paling terkenal judulnya Ratu Extasi yang tak tahu siapa bintangnya. Sayang sekali memang gaungnya gerakan itu tidak bertahan lama sampai-sampai hilangnya pun tidak ada yang merasakan.
Baru-baru ini saya membaca di salah satu website yang juga menerbitkan salah satu media cetak cukup terkenal diantara para jurnalis, dan juga sudah banyak menelorkan jurnalis-jurnalis handal di bidang sastra dengan tulisan-tulisan panjangnya, bahwa suatu ketika pernah ada di tetapkannya hari blogger nasional oleh menkominfo, waktu itu kalau tidak salah M Nuh, dan 27 Oktober adalah tanggal yang ditetapkan karena berkesesuaian dengan tanggal diadakannya diskusi mengenai blogger se-Indonesia.
Saya coba untuk menindak secara positif dari keputusan yang ditetapkan pemerintah kita walau tanpa SK jelas ditandatangani siapa. Paling tidak penghargaan minimal bagi pemerintah kita ialah sudah mulai membuka mata sipitnya untuk mengikuti perkembangan masyarakatnya di bidang pengetahuan dan teknologi. Walaupun ada sedikit protes dibenak yang saya kesampingkan dulu, agak aneh rasanya seorang pejabat tinggi di pemerintahan secara gampangan mengeluarkan statement kontroverisal mengenai penetapan hari-hari berskala nasional.
Sejenak mulai otak ini berpikir akan keanehan-keanehan kelakuan pemerintah kita, coba bayangkan sudah berapa banyak pemerintah kita menetapkan hari-hari dalam kalender merupakan hari bersejarah hingga harus menasionalkan hari itu. Sebagai contoh pernah dulu ada GDN (Gerakan Disiplin Nasional), Hari Anti Narkoba, Hari Anak Nasional, Hari Pers Nasional, Hari Kartini, hingga hari berkabung nasional pun pernah ditetapkan juga, mungkin diantara banyak kita sendiri juga tidak mengerti apa maksudnya dan mengapa hari itu bisa dijadikan sebagai hari nasional oleh pemerintah, ataukah saja karena di hari-hari itu telah terjadi suatu kejadian yang menggemparkan rakyat Indonesia dalam skala nasional, jangan-jangan penyakit flu burung dan musibah lumpur lapindo bahkan banjir Jakarta yang katanya tahunan itu pun tak luput dari incaran pemerintah kita untuk dijadikan momen bersejarah dan diguratkan melaui goresan pena di dalam buku merahnya sebagai hari nasional.
pernah sekali waktu dalam khayalku
aku ingin menuliskan sajak indah untukmu
walau terus ku cari dibalik cahaya sinar lampu
tetap saja tak ada satu kata pun bisa aku tuliskan
pernah juga sekali waktu dalam khayalku
aku ingin menuliskan sajak spesial untukmu
sampai harus ku cari kesemua penjual kerabu
tetap saja tak ada satu kata pun bisa aku tuliskan
pernah yang paling parah dalam khayalku
sayangnya tetap tak ada satu kata pun bisa aku tuliskan
(19 februari 2008)