Bukan Kristen atau Yahudi atau Muslim, bukan Hindu, Budha, sufi, atau zen. Bukan agama atau sistem budaya apa pun. Bukan dari Timur atau Barat, bukan keluar dari samudera atau timbul dari darat, bukan alami atau akhirat, bukan dari unsur-unsur sama sekali. Aku bukan wujud, bukan entitas di dunia ini atau akhirat, bukan dari Adam atau Hawa atau cerita asal-usul mana pun. Tempatku adalah Tanpa-Tempat, jejak dari yang Tanpa-Jejak. Bukan raga maupun jiwa.

Minggu, Februari 23, 2014

SYAIR INI BERJUDUL CINTA

SYAIR INI BERJUDUL CINTA

mak!
hari ini aku menulis lagi
tak banyak mungkin
meski aku tak tahu maknanya
tapi, akan aku beri judul 'Cinta'

ya mak! tentang 'cinta' mak!
bukan kah kita selalu mengucapnya?
bukan kah kita terlalu sering mengumbarnya?
bukan kah kita senang mendengarnya?
bahkan kita terus mengharapkannya

tapi mak!
kau tak pernah menjelaskan apa itu 'cinta'
aku hanya tahu 'cinta' lewat sinetron di televisi
juga dari tetangga sebelah

ya mak!
setiap orang berkata 'cinta' mak!
yang konon katanya, itu sakral sampai ke arsy
tapi nyatanya, masih terus saja diumbar-umbar

aku tidak boleh benci mereka kan mak!?
sebab pesan mu:
kita harus saling berbuat baik, bukan saling membenci

eh... mak!
pagi tadi aku mendengar lagi
sepasang remaja saling berucap 'cinta'
bermula dengan indah, manis, serta ceria
kemudian mereka masuk ke kamar sebelah
dan entahlah apa yang terjadi disana

aku langsung berpikir mak!:
betapa senangnya mereka
karena mereka sudah tahu makna 'cinta'
dan aku iri mak!

beruntung sekali mereka mak!
mereka paham, aku tidak
mereka cinta, aku tidak
mereka tertawa, aku gila

dan mak!
aku mulai berprasangka pada mu, mak!
apakah kau juga tak tau maknanya?
atau kah kau terlalu pelit berbagi?
aku jadi semakin gila mak!

pernah kah terpikir oleh mu mak!
bahwa aku akan menanyakannya?
sebab kata orang-orang
aku ini terlahir karena 'cinta' mu

wah... wah... wah... mak!
bahkan orang-orang pun tau kau punya 'cinta'
sedangkan kau ini
masih terus saja paksa aku berpikir sendiri

aduh.. mak!
dimana ajaran mu dulu tentang berbagi?
dimana pesan mu dulu tentang memberi?
dimana ucap mu dulu tentang tulus?
dimana lagi aku harus bertanya mak!

aku lelah mak!
di setiap sudut bicara 'cinta'
di tiap judul film ada 'cinta"
di tiap bait lagu ada 'cinta'
dan aku masih terjebak karena tak tahu

tapi sudah lah mak!
mungkin kau lelah mengajari ku banyak hal
jadi...
biarlah hari ini aku menulis lagi
tak banyak mungkin
tapi, akan aku beri judul 'Cinta'

(Jakarta, 23 Februari 2014)






Minggu, April 14, 2013

TUHAN SEDANG MENYAMAR


TUHAN SEDANG MENYAMAR

langit mendung
hujan deras
petir menggelegar
ya. itulah Aku

setiap saat aku datang
meskipun tak kau undang
didalam pesta yang gemerlap
juga ketika tangis kematian

aku menjelma jadi jalanan
tapi kau tak kan pernah mengerti
bahwa tuhan mu telah kau injak-injak
kau ludahi, kau kencingi, bahkan kau hindari

kemarin,
tutur mu adalah aku
begitupun tutur ku adalah kamu
dan kita ada dalam satu tutur

aku menyerupa sampah
sedang kau menyerupa kasturi
kau terus membenci ku
sedang kau tak sempat aku hina

kau bergerombol mencari ku
berteriak-teriak atas nama ku
tapi aku ada disekitarmu
aku diam kau gebuki
aku ngomong kau tantang aku

pernah paling parah
aku menjelma menjadi mu
kamu menjelma jadi aku
dan kita tak pernah berjumpa

hari ini aku berada digenggam mu
kau genggam aku erat-erat
seolah aku hanya kepunyaanmu sendiri
dan kau berjanji hanya aku cintamu
namun kau tak sadar ucapmu itu
karena kau hanya sekadar berucap tidak berjanji

langit mendung
hujan deras
petir menggelegar
kembali kau bersajak tentang aku
dan aku kembalikan sajak itu padamu

(jakarta, 14 april 2013)