Bukan Kristen atau Yahudi atau Muslim, bukan Hindu, Budha, sufi, atau zen. Bukan agama atau sistem budaya apa pun. Aku bukan dari Timur atau Barat, bukan keluar dari samudera atau timbul dari darat, bukan alami atau akhirat, bukan dari unsur-unsur sama sekali. Aku bukan wujud, bukan entitas di dunia ini atau akhirat, bukan dari Adam atau Hawa atau cerita asal-usul mana pun. Tempatku adalah Tanpa-Tempat, jejak dari yang Tanpa-Jejak. Bukan raga maupun jiwa.
Pabila sebuah usaha pertemanan tanpa disengaja telah menjadi petaka satu hubungan romantisme. Praha kamis dini hari sangat tepat untuk paksa semua kembali seperti sediakala: Individualis, picik, asumsi.
Dan. Hari ini dimulai pada kata berhenti. Walau berhenti tak menghentikan segala bentuk usaha membangun hubungan. Apalagi membunuh realitas kehidupan pribadi serta kepublikan. Mungkin hanya akan mengungkapkan lagi kata gagal yang pernah terlewat.
Lagi-lagi kebersamaan kata dan suara yang terus dijadikan perkara asumsi negatif. Padahal, untuk mengetahui seberapa jujur seseorang akan lebih efektif melalui bahasa tutur. Sebuah hubungan akan terus terjalin dengan damai ketika pelakonnya sendiri merasa memiliki satu selera, satu penyepakatan. Pada akhirnya layak untuk dinikmati dan dijalani. Bukan dengan saran, pun bukan pula dengan paksaan.
Sebagaiamana telah dibicarakan. Membaca. Mengukur. Adalah pedoman yang paling tepat untuk merangkai jalinan pertemanan ini secara baik. Karna segala bentuk usaha Menyikapi berawal dari dua kata itu. Tujuannya tidak lebih, hanya menemukan pola-pola baru dalam menata kehidupan lebih baik sesuai dengan apa yang diinginkan pribadi pelakon, juga publik yang berperan sebagai pengonsumsinya.
Baiknya runut kembali awal mula terjadinya petaka itu. Rumput ilalang takkan mampu tumbuh tanpa perantara air.
Aku masih tetap sama. Tanpa saran. Hanya mengingatkan untuk beristirahat sejenak. Sampai tiba waktunya nanti akan ada pergerakan yang berarti. Lagi.